Sabtu, 24 Maret 2012
tangan rapuh
Sabtu, 25 Februari 2012
Aku ga sempurna
Kenapa semua orang mikir aku sempurna?
Apa karena perkataan ak yang suka sok dewasa?yang suka menasehati padahl diri sendir aja minus.
Aku gtw ya knp aku bisa jdi kyk gini? Ak jg gtw knp sesorg bisa dktakan rusak?ap karena kelakuan dy minus? Trs kl dy ud nglakuin hal minus apakah org tsb ga boleh bertobat?ga boleh berbuat baik? Ga boleh jd org baik?knp image baik hrs melekat pada org” yg baik aj? Emg org yg g baik ga boleh menyandang predikat org baik??
Kenapa sih? Akd ga ngerti ma ini semua.
Aku jg ga ngerti knp ak kyk gini. Knp aku bukan smkin jd pribadi yang baik tp knp justru minus. Knp ketika ak mw berbuat lebh ad hambatan? Dapet karma..
Allah sayang sama aku,
Allah benci ga ya sama aku? Kayaknya ga loh.
Aku uda tau tp kenapa? Kenapa??
Baik buruknya aku ya ada di tangan aku. Selama aku berpegabg teguh pada imanMu akan slalu baikbaik aja. Allah maha pemurah dan pemaaf..aku percaya itu..
Aku harus lebih baik lagi!
Rabu, 15 Februari 2012
puanas banget
kutunggu kabar
Minggu, 12 Februari 2012
curhatanku again :)
curhatanku :)
Jumat, 20 Januari 2012
laporan praktikum pektin
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI BUAH DAN SAYUR
ACARA V
PEKTIN
![]() |
Penanggung jawab :
| Novi Setianingsih | A1M009015 |
| Faradina Purnaningtyas | A1M009068 |
KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2011
I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pemakaian pektin di bidang industri telah dikenal luas dan diijinkan di semua negara. Pektin banyak digunakan di bidang farmasi, makanan dan minuman, serta bidang teknik. Pektin diketahui memiliki efek hipokolesterol. Penggunaan pektin herhubungan dengan kemampuannya dalam membentuk gel. Pektin merupakan molekul rantai panjang dan asam poligalakturonat yang sebagian gugus karboksilnya teresterifikasi oleh metil alkohol. Secara
umum, pektin terdapat di dalam dinding sel tanaman, khususnya di sela-sela antara selulosa dan hemiselulosa.
Pektin dapat diekstrak dari jaringan tanaman dengan larutan asam. Sumber pektin yang utama adalah Sayur-mayur dan buah-buahan. Pektin merupakan salah satu komoditi impor. Pektin komersial umumnya berasal dari apple pomace dengan kandungan pektin berdasarkan bobot kering sebesar 15%, kulit anggur 25%, kulit jeruk lemon 35,.5% (Subardjo, dkk., I 989)
Labu siam (Sechium edule Sw.) merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber pektin. Buahnya mengandung pektin sebesar 2,7 - 3,0% (Kertesz, 1951). Berdasarkandata Bagian Statistik Tanaman Pangan (1991), dari lahan seluas 2.093 hektar dihasilkan buah sebanyak 12.908 ton. Selama ini penggunaan buah labu siam hanya sebagai sayuran.
Selain labu siam, buah pepaya juga memiliki kandungan pektin dengan kadar yang tinggi oleh karena itu dapat diolah menjadi selai dengan penambahan gula pasir dan asam sitrat supaya diperoleh selai yang baik, yaitu tidak encer dan mengkilap (Dudung, 1999). Buah pepaya mempunyai nilai gizi yang tinggi terutama kadar vitamin C dan vitamin A. Setiap 100 gram mengandung 3,65 mg vitamin A dan 78 mg vitamin C. Keseluruhan tanaman pepaya ini sangat berguna bagi kehidupan manusia.
B. Tujuan
1. Mengetahui proses pembuatan pektin dengan cara ekstraksi.
2. Mengetahui pengaruh variasi pH ekstraksi terhadap sifat fisik pektin yang dihasilkan.
3. Mengetahui pengaruh jenis buah dan sayur terhadap sifat fisik pektin yang dihasilkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pektin merupakan suatu polisakarida kompleks. Komponen utama pektin adalah molekul asam galakturonat yang dihubungkan dengan unit-unit yang sarna melalui ikatan a.-1A glikosida. Komponen. lain yang merupakan komponen minor meliputi L-arabinosa, D-xilosa, D-galaktosa dan L-rhamnosa. Sebagian gugus karboksil pektin teresterifikasi oleh metil alkohol (Towle and Christensen, 1973).

Gambar 1. Struktur senyawa pektin
Pektin merupakan serbuk halus atau sedikit kasar, berwama putih dan. hampir tidak berbau. Bobot molekul pektin bervariasi antara 30.000-300.000 (Kirk and Othmer, 1952). Kelarutan pektin berbeda-beda, sesuai dengan kadar metoksilnya. Pektin dengan kadar metoksil tinggi larut dalam air dingin, pektin dengan kadar metoksil rendah larut dalam larutan alkali atau oksalat. Pektin tak larut dalam aseton dan alkohol (Kirk and Othmer, 1952).
Berdasarkan kandungan metoksilnya, pektin dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu pektin dengan kandungan metoksil tinggi (high metllOxyl pectin) berkisarantara 7 - 12%, dan pektin dengan kandungan metoksil rendah (lowmethoxyl pectin) mengandung metoksil kurang dari 7% (Subardjo dkk., 1989).
Pektin dapat membentuk gel dan memiliki kapasitas menahan air (Anderson and Chen, 1979). Pektin merupakan koloid hidrofilik yang bermuatan negatif, distabilkan oleh lapisan air (Cruess dalam Kertesz, 1951). Sumber pektin yang utama adalah sayur-mayur dan buah-buahan. Pektin terdapat pada dinding sel semua jaringan tanaman yang berfungsi sebagai zat perekat interseluler. Kandungan pektin yang lebih tinggi terdapat pada sel-sel tanaman yang masih aktif dalam pertumbuhannya, seperti akar muda, buah dan daun (Kertesz, 1951).
Di dalam tanaman dibedakan antaraprotopektin, asam pektat, asam pektinat dan garam-garamnya. Protopektin merupakan prekursor pektin yang tidak larut dalam air, terdapat pada jaringan tanaman dan buah-buahan yang masih muda. Selama proses pematangan buah, protopektin dihidrolisis oleh enzim protopektinase menjadi pektin yang larut dalam air (Kertesz, 1951).
Penamaan senyawa pektin berdasarkan American Chemical Society
(Baker, 1946) adalah sebagai berikut:
- Protopektin yaitu senyawa induk pektin yang tidak larut dalam air.
- Asam pektinat yaitu asam poligalakturonat dengan sejumlah gugus metil ester yang tidak dapat diabaikan, bersifat koloid.
- Pektin yaitu istilah umum untuk asam pektinat yang memiliki kemampuan untuk membentuk gel dengan gula dan asam.
- Asam pektat yaitu asam poligalakturonat yang hampir tidak memiliki gugus metil ester, bersifat koloid.
Pektin dapat diekstrak dari jaringan tanaman dengan air panas,larutan asam encer atau larutan ammonium oksalat. Pengendapan pektin dari filtrat hasil ekstraksi dapat dilakukan dengan menggunakan etil alkohol, metil elkohol atau isopropil alkohol (Towle and Christensen, 1973).
Kondisi ekstraksi pektin berpengaruh terhadap karakteristik pektin (Kacem, et al. (2008) dan sifat fisik pektin tergantung dari karakteristik kimia pektin (Guichard et al., 1991). Suhu yang tinggi selama ekstraksi dapat meningkatkan rendemen pektin. Suhu yang agak tinggi akan membantu difusi pelarut ke dalam jaringan tanaman dan dapat meningkatkan aktivitas pelarut dalam menghidrolisis pektin yang umumnya terdapat di dalam sel primer tanaman, khususnya pada lamella tengah (Towle dan Christensen, 1973). Waktu ekstraksi yang terlalu lama akan mengakibatkan terjadinya hidrolisis pektin menjadi asam galakturonat. Pada kondisi asam, ikatan glikosidik gugus metil ester dari pektin cenderung terhidrolisis menghasilkan asam galakturonat (Smith dan Bryant, 1968).
pH merupakan salah satu parameter pang penting dalam pembentukan jeli pectin. pH yang terlalu rendah dapat menyebabkan sineresis, yaitu keluarnya air dalam gel pada suhu kamar. pH yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gel pecah (Winarno, 1988). Menurut Wong (1989), pectin bermetoksil rendah mempunyai pH 2,5-6,5.
Labu siam (Sechium edule Sw.) termasuk ordo Cucurbitales dan famili Cucurbitaceae. Kandungan gizi buah labu siam tergolong rendah, kandungan terbanyak adalah air yang mencapai 94%. Selain itu buah pepaya merupakan tanaman buah dari famili Caricaceae. Tanaman pepaya banyak ditanam orang dan merupakan buah meja bermutu dan bergizi yang tinggi (BAPPENAS, 2000). Memiliki nilai gizi yang tinggi dan pektin yang tinggi pula.
III. METODE PRAKTIKUM
A. Alat
· Pisau
· Baskom
· Blender
· Kompor
· Panci
· Erlenmeyer
· Kain saring
· Pengaduk
· Penegring cabinet
· Oven
· Cawan
· Corong
B. Bahan
· Pepaya
· Labu siam
C. Cara kerja
![]() | ||||
![]() | ||||
| ||||
![]() | ||||||||
![]() | ||||||||
![]() | ||||||||
![]() | ||||||||
| ||||||||
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Data pengamatan :
| Berat kain saring | 1 : 0,6655 |
| 2 : 0,6915 | |
| 3 : 0,5053 | |
| 4 : 0,5212 | |
| 5 : 0,5015 | |
| 6: 0 |
| Kel | Berat awal | Penimbangan ke- | |||||
| I | II | III | IV | V | VI | ||
| 1 | 0,6813 | 0,6703 | 0,6749 | 0,6717 | 0,6695 | 0,6665 | 0,6650 |
| 2 | 0,7096 | 0,6970 | 0,6992 | 0,6949 | 0,6914 | 0,6921 | - |
| 3 | 0,5188 | 0,5087 | 0,5126 | 0,5079 | 0,5086 | 0,5065 | 0,5059 |
| 4 | 0,5221 | 0,5243 | 0,5154 | 0,5164 | 0,5150 | - | - |
| 5 | 0,5039 | 0,4918 | 0,4946 | 0,4890 | 0,4892 | 0,4897 | - |
| 6 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
% Rendemen : ![]()
x gram berat pektin
x 100%
Gram bahan baku
Hasil rendemen pektin pepaya
| 1 | 0,79 % |
| 2 | 0,065 % |
| 3 | 0,65 % |
| 4 | 0,045% |
| 5 | 2,89% |
| 6 | 0 |
B. Pembahasan
Pada proses ektraksi pektin buah dan sayur terlebih dahulu dilakukan sortasi bahan, lalu pencucian dan pemotongan. Selanjutnya dilakukan penghancuran (diblender) dengan penambahan air dengan perbandingan bahan dan air = 1:10, dilakukan ekstraksi dengan pemanasan dalam waterbath suhu 800 C selama 45 menit lalu disaring dalam keadaan panas, filtrat yang diperoleh diatur pHnya hingga mencapai 2, 3 dan 4. Langkah selanjutnya diendapkan dengan menggunakan aseton 96% dengan perbandingan filtrat : aseton = 1:1, jendalan yang diperoleh disaring dan dicuci menggunakan alkohol asam 85% sebanyak 2 kali dan 3 kali dengan alkohol netral 95% hingga pektin tidak bereaksi asam. Gumpalan pektin diperas perlahan dan dikeringkan pada suhu 400-500C. Lakukan penimbangan dan pengamatan.
Buah dan sayur yang digunakan dalam praktikum yaitu pepaya dan labu siam. Namun hasil yang diperoleh dari ektraksi pektin yang didapatkan hanya pektin pepaya sedangkan labu siam tidak terekstrak. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor antara lain kondisi bahan baku yang digunakan, pH larutan pengesktrak dan suhu ekstraksi. Pada praktikum digunakan larutan pengesktrak (asam sitrat) dengan pH 2, 3 dan 4 dan suhu 800 C.
Pada waktu ekstraksi terjadi proses pelarutan protopektin yang berasosiasi dengan selulosa dalam jaringan tanaman menjadi asam pektinat. Proses ini berlangsung karena adanya substitusi ion polivalen protopektin oleh ion hidrogen ataupun karena putusnya ikatan antara asam pektinat dengan selulosa.
Rendemen tertinggi diperoleh dari pektin pepaya kelompok 5 dengan hasil 2,89%, sedangkan pektin yang terendah diperoleh kelompok 4 dengan 0,045%. Pada kelompok 6 dalam percobaan tidak terekstrak baik buah pepaya dan labu siam dikarenakan beberapa faktor. Pektin yang dihasilkan pada praktikum ini termasuk pektin berkadar metoksil rendah karena kadar metoksilnya dibawah 7% (Winarno, 1988). Pektin dengan kandungan metoksil rendah adalah pektin yang sebagian gugus karboksilnya tidak teresterkan.
Menurut Kertesz (1951), bahwa buah labu siam mengandung pektin sebesar 2,7 - 3,0%. Tidak terekstraknya pektin disebabkan oleh kematangan yang tidak sama dari buah labu siam yang dianalisis. Pada buah yang masih muda, senyawa pektin berada dalam bentuk protopektin yang tidak larut dalam air. Selama proses pematangan buah, terjadi hidrolisis protopektin menjadi pektin yang larut dalam air oleh keaktifan enzim protopektinase yang terdapat dalam jaringan tumbuhan. Pektin yang didapatkan dari ekstraksi buah labu siam berupa serbuk halusyang berwama putih kotor.
Sedangkan pada buah pepaya dapat digunakan sebagai pangan ataupun pakan ternak. Pepaya memiliki kandungan pektin dengan kadar yang tinggi oleh karena itu dapat diolah menjadi selai dengan penambahan gula pasir dan asam sitrat supaya diperoleh selai yang baik, yaitu tidak encer dan mengkilap (Dudung, 1999).
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Proses pembuatan pektin dengan cara ekstraksi diawali dengan sortasi buah dan sayur, penimbangan, pengupasan dan pemotongan. Selanjutnya dilakukan penghancuran (diblender), dilakukan ekstraksi dengan pemanasan dalam waterbath suhu 800 C selama 45 menit lalu disaring, filtrat yang diperoleh diatur pHnya hingga mencapai 4. Langkah selanjutnya diendapkan dengan menggunakan aseton 96%, jendalan yang diperoleh disaring dan dicuci menggunakan alkohol asam 85% sebanyak 2 kali dan 3 kali dengan alkohol netral 95% hingga pektin tidak bereaksi asam. Gumpalan pektin diperas perlahan dan dikeringkan pada suhu 400-500C. Lakukan penimbangan dan pengamatan.
2. Pengaruh variasi pH pada saat ektraksi sangat berpengaruh. Variasi pH 2, 3 dan 4 menghasilkan rendemen pektin yang berbeda-beda. Rendemen pektin labu siam lebih rendah daripada pepaya. Namun pada praktikum didapatkan hasil jika pepaya memiliki rendemen pektin lebih rendah daripada labu siam.
3. Pengaruh jenis buah dan sayur terhadap sifat fisik pektin yang dihasilkan berbeda. Buah pepaya selain memiliki kandungan gizi tinggi, pektin yang terkandung juga cukup tinggi. Berbeda dengan sayur labu siam, kandungan pektinnya rendah. Hal ini bergantung dari kematangan buah dan sayur yang digunakan. Warna pektin yang diperoleh pada saat praktikum baik pepaya dan labu siam berwarna putih kecoklatan.
B. Saran
Dalam proses ektraksi pektin perlu diperhatikan kematangan buah dan sayur yang digunakan, dan kondisi ektraksi pektin sehingga diperoleh pektin yang maksimal dan sesuai.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, lW. and Wen-Ju Lin Chen. 1979. Plant Fiber, Carbohydrate and Lipid
Metabolisme. Am. J. Clin. Nutr. 32: 246-63.
Baker, G.L. 1946. Miscellaneous Paper No. 23. Univ. of Delaware Agric. Experiment
Station. Delaware.
Dudung Muhidin, 1999. Agro Industri Papain dan Pektin. Jakarta : Swadaya.
Guichard, E. S., A, Issanchou., Descovieres and P. Etievant. 1991. Pektin concentrat ion, molekular weight and degree of esterification. Influence on volatile composition and sensory caracteristic of strawberry jam. J. Food Science 56:1621
Kacem, I., H. Majdoub and S. Roudesli. 2008. Physicochemical propert ies of pectin from retama raetam obtained using sequential extraction. Journal of Applied Sciences 8(9):1713– 1719.
Kertesz, Z.I. 1951. The Pectic Substances. Interscience Publishers. New York I
Subardjo, SK., Siti Sofiah, Entjep Tannidji, Juli Astuti. 1989. Mempelajari Pengaruh
Suhu, pH dan Waktu Hidrolisa Terhadap Rendemen Pektin HasH Ekstraksi Kulit
Buah Markisa (Passiflora edulis Sims). Warta IHP. 6 (2): 15-18.
Smith and Bryant. 1968. Properties of Pectin Fraction Separated on Diethylleaminoethyl-Cellulose Columns. Dalam Nelson, D.B., C.J.B. Smith and R.L Wiles. 1977. Commercially Important Pect ic Substances. AVI Publ. Inc. , Westport ,Connecticut.
Towle, G.A. and O. Christensen. 1973. Pectin. dalam Industrial Gums, Polysaccharides
& Their Derivatives edited by R.L. Whistler. Academic Press. New York. P.429-
455.
Winarno, F.G. 1988. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia. Jakarta.
LAMPIRAN

Gambar 1. Labu siam

Gambar 2. Penyaringan menjadi filtrat

Gambar 3. Filtrat labu siam






